SOSOKNYA mencuri perhatian dunia saat Komite Nobel di Oslo, Norwegia, menobatkannya menjadi peraih Nobel Perdamaian 2006. Sebelumnya, media lebih banyak menyebut mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, mediator perdamaian yang juga mantan Menlu Australia Gareth Evans, bahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang bakal menyabet Nobel Perdamaian 2006. Ya, pilihan ternyata jatuh kepada Muhammad Yunus, seorang doktor ekonomi asal Bangladesh.
Muhammad Yunus dinilai mempunyai kontribusi besar terhadap perbaikan ekonomi rakyat Bangladesh, terutama bagi kaum perempuan untuk lepas dari kungkungan kemiskinan. Konsep brilian kredit mikro yang diciptakannya, ibarat resep jitu yang membawa pencerahan bagi masyarakat Bangladesh, terutama kaum perempuan untuk hidup lebih layak.
Keinginan menghapus kemiskinan dibarengi solidaritasnya yang tinggi diwujudkannya dengan mendirikan Grameen Bank Prakalpa pada tahun 1976 di Jobra Bangladesh. Grameen Bank dengan karakteristik uniknya hanya menjaring nasabah kaum miskin yang tidak mempunyai lahan dan lebih memprioritaskan kaum perempuan. Grameen Bank meminjamkan uang kepada nasabah untuk dijadikan modal usaha kecil-kecilan, tanpa jaminan.
Lahir di Chittagong Bangladesh, 28 Juni 1940 dari keluarga cukup berada, Yunus kecil tumbuh menjadi anak pintar. Sifat tenggang rasa, solidaritas yang tinggi terhadap sesama dalam diri Yunus terasah dalam gerakan kepanduan yang diikutinya di sekolah. Ya, Yunus merupakan anggota gerakan kepanduan!
Seperti ditulis Yayasan Ramon Magsaysay Filipina yang juga memberikan penghargaan pada tahun 1984, dalam situs www.rmaf.org.ph, Yunus menyelesaikan pendidikan menengahnya di sekolah elite Middle English School, di Chittagong.
Di sekolah, selain kerap menjadi juara kelas, Yunus aktif berorganisasi kepanduan yang membawanya melanglang ke penjuru dunia. Tahun 1952, ia bersama 24 orang temannya terpilih untuk berpartisipasi dalam jambore kepanduan se-Pakistan. Tiga tahun kemudian, berkat kecakapannya dalam organisasi kepanduan, Yunus terpilih bersama dua anggota kepanduan dari Pakistan Timur bergabung dengan 25 anggota kepanduan dari Pakistan Barat menjajal ajang Jambore Sedunia di Kanada. Muhammad Yunus bersama rekannya terbang ke New York Amerika Serikat dan meneruskan perjalanan ke Niagara, Ontario Kanada.
Banyak hal penting yang dipetik dari ajang Jambore Sedunia ini. Yunus berkesimpulan, sifat kemanusiaan di setiap negara ternyata mempunyai kesamaan. Di jambore, semua peserta berbaur bersama, bermain bersama, tanpa membedakan latar belakang dan asal asul.
Setelah jambore usai, sebelum memutuskan pulang, selama enam bulan Yunus dan rekan-rekannya melakukan tur ke berbagai kota dan negara. Setelah Washington dan New York, mereka sempat singgah di Inggris dan beberapa negara di Eropa seperti Jerman dan Yugoslavia. Yunus bersama dua orang rekannya kemudian berkunjung ke negara-negara Timur Tengah seperti Irak dan melanjutkan perjalanan ke Karachi Pakistan. Yunus sendiri sebelum pulang ke Chittagong sempat berkunjung ke New Delhi, Bombay, dan Calcutta di India.
Di setiap kota yang dilalui, mereka selalu berkunjung ke sanggar-sanggar kepanduan. Kadang, mereka diterima oleh pihak pemerintahan setempat dan diperlakukan layaknya tamu kehormatan. Sungguh perjalanan panjang penuh tantangan yang membentuk Yunus menjadi mandiri.
Tahun 1958, Yunus kembali hadir di perhelatan Jambore Sedunia di Filipina dan Jambore se-Jepang. Selama di Asia, ia juga sempat berkunjung ke Rangoon, Bangkok, Saigon, dan Hong Kong. Sempat kuliah di Universitas Dhaka tahun 1957, Yunus kemudian terbang ke Amerika Serikat berkat beasiswa dari Universitas Vanderbilt, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat. Muhammad Yunus meraih gelar doktor pada tahun 1970.
Nobel Perdamaian semakin memperpanjang daftar penghargaan yang telah diraih Yunus sebelumnya. Perdamaian tak selalu harus dipandang sempit, damai tanpa ada konflik senjata. Perdamaian juga bisa terwujud lewat perbaikan struktur ekonomi dan turunnya angka kemiskinan dan pengangguran. (Yudi Noorachman)***
sumber: pikiran rakyat (09/02/2007)
Sabtu, 01 November 2008
Mohamed Jaisham, Pandu Gagah Berani dari Maladewa
Mungkin Baden-Powell tak akan menyangka, organisasi yang didirikannya lebih dari seratus tahun lalu ini bakal eksis hingga saat ini dan menghasilkan orang-orang berjiwa besar dan sukses. Berbagai bentuk kegiatan dalam kepanduan yang bertujuan membina dan membentuk karakter generasi muda, menjadi daya tarik luar biasa bagi siapa pun yang menekuninya. Sebagai wadah penyaluran minat, bakat, serta berisi kegiatan yang positif dan konstruktif, kepanduan bisa dijadikan sebagai modal dasar bagi generasi muda menjadi mandiri, berani, dan bertanggung jawab. Hasilnya, terbukti sampai saat ini gerakan kepanduan sukses melahirkan manusia-manusia berkualitas dan menjadi pemimpin yang mumpuni.
Banyak kisah menarik sekaligus heroik seputar orang sukses yang semasa mudanya menggeluti gerakan kepanduan yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti, kisah Muhammad Yunus dari Bangladesh (peraih Nobel Perdamaian 2006) yang saat kecil bersama 25 anggota kepanduan negaranya berpetualang melanglang ke penjuru dunia melakukan tur ke berbagai kota dan negara seusai mengikuti Jambore Sedunia di Kanada.
Kisah heroik lain yang masih hangat diperbincangkan dan menjadi perhatian dunia baru-baru ini datang dari Republik Maldives atau orang Indonesia menyebutnya Maladewa. Negeri indah yang terdiri atas gugusan kepulauan dan terumbu karang di Lautan Hindia, selatan Pulau Lakshadweep India ini dibuat geger dengan insiden penyerangan terhadap Presiden Maladewa, Maumoon Abdul Gayoom, Selasa, 8 Januari 2008. Beruntung, penyerangan ini bisa digagalkan dan Presiden Maumoon selamat tanpa terluka sedikit pun. Lalu, siapakah yang menjadi dewa penyelamat bagi Presiden Maumoon saat kejadian tersebut? Ya, dialah anak berumur 15 tahun bernama Mohamed Jaisham Ibrahim, seorang anggota kepanduan Maladewa yang dengan gagah berani menyelamatkan nyawa sang presiden.
Kronologi kejadiannya benar-benar mirip adegan film laga. Menteri Penerangan Republik Maladewa Mohamed Nasheed, dalam keterangan resminya mengatakan, saat itu Presiden Maumoon sedang berkunjung ke Pulau Hoarafushi, pulau yang terletak di sebelah utara Maladewa. Saat Presiden Maumoon sedang menyalami orang-orang di sekitarnya, tiba-tiba seorang laki-laki berusia 20 tahunan menyeruak di antara kerumunan mengeluarkan pisau dan hendak menikamkannya ke arah perut Presiden Maumoon. Saat itulah, Mohamed Jaisham yang hadir dan berada dekat Presiden Maumoon dengan refleks menerjang penyerang tersebut dan terlibat pergumulan seru. Dalam pergulatan itu, tangan Mohamed Jaisham terluka cukup serius karena ia berusaha merampas pisau si penyerang. Adegan tersebut berakhir setelah para penjaga Presiden Maumoon turun tangan dan menangkap si penyerang. Saat kejadian, Mohamed Jaisham mengenakan seragam kepanduan Maladewa warna hijau lengkap dengan segala atributnya.
Karena luka yang cukup serius, akhirnya Mohamed Jaisham dilarikan ke rumah sakit. Tindakan ”nekat” Mohamed Jaisham perlu diacungi jempol. Ia rela berkorban demi menyelamatkan orang lain walaupun keselamatan dirinya juga terancam. Sekarang, nama Mohamed Jaisham begitu populer di seantero Maladewa maupun dunia.
Sebagai bentuk penghargaan, Presiden Maumoon yang juga menjabat sebagai Ketua Kepanduan Maladewa menganugerahkan The Gallantry Gold Award (medali khusus bagi anggota kepanduan, baik perseorangan maupun kelompok yang telah berkorban untuk masalah kemanusiaan). Dalam sambutan pada upacara penyerahan medali, Rabu (23/1), di Sekolah Ghiyaasuddin, Presiden Maumoon mengatakan, gerakan kepanduan dan seluruh warga Maladewa patut berbangga terhadap Mohamed Jaisham. Presiden Maumoon juga menambahkan, keberanian yang dimiliki Mohamed Jaisham tak terlepas dari efektifnya latihan keterampilan yang dijalani Jaisham selama mengikuti gerakan kepanduan. (Yudi Noorachman/dari berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (15/02/2008)
Banyak kisah menarik sekaligus heroik seputar orang sukses yang semasa mudanya menggeluti gerakan kepanduan yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti, kisah Muhammad Yunus dari Bangladesh (peraih Nobel Perdamaian 2006) yang saat kecil bersama 25 anggota kepanduan negaranya berpetualang melanglang ke penjuru dunia melakukan tur ke berbagai kota dan negara seusai mengikuti Jambore Sedunia di Kanada.
Kisah heroik lain yang masih hangat diperbincangkan dan menjadi perhatian dunia baru-baru ini datang dari Republik Maldives atau orang Indonesia menyebutnya Maladewa. Negeri indah yang terdiri atas gugusan kepulauan dan terumbu karang di Lautan Hindia, selatan Pulau Lakshadweep India ini dibuat geger dengan insiden penyerangan terhadap Presiden Maladewa, Maumoon Abdul Gayoom, Selasa, 8 Januari 2008. Beruntung, penyerangan ini bisa digagalkan dan Presiden Maumoon selamat tanpa terluka sedikit pun. Lalu, siapakah yang menjadi dewa penyelamat bagi Presiden Maumoon saat kejadian tersebut? Ya, dialah anak berumur 15 tahun bernama Mohamed Jaisham Ibrahim, seorang anggota kepanduan Maladewa yang dengan gagah berani menyelamatkan nyawa sang presiden.
Kronologi kejadiannya benar-benar mirip adegan film laga. Menteri Penerangan Republik Maladewa Mohamed Nasheed, dalam keterangan resminya mengatakan, saat itu Presiden Maumoon sedang berkunjung ke Pulau Hoarafushi, pulau yang terletak di sebelah utara Maladewa. Saat Presiden Maumoon sedang menyalami orang-orang di sekitarnya, tiba-tiba seorang laki-laki berusia 20 tahunan menyeruak di antara kerumunan mengeluarkan pisau dan hendak menikamkannya ke arah perut Presiden Maumoon. Saat itulah, Mohamed Jaisham yang hadir dan berada dekat Presiden Maumoon dengan refleks menerjang penyerang tersebut dan terlibat pergumulan seru. Dalam pergulatan itu, tangan Mohamed Jaisham terluka cukup serius karena ia berusaha merampas pisau si penyerang. Adegan tersebut berakhir setelah para penjaga Presiden Maumoon turun tangan dan menangkap si penyerang. Saat kejadian, Mohamed Jaisham mengenakan seragam kepanduan Maladewa warna hijau lengkap dengan segala atributnya.
Karena luka yang cukup serius, akhirnya Mohamed Jaisham dilarikan ke rumah sakit. Tindakan ”nekat” Mohamed Jaisham perlu diacungi jempol. Ia rela berkorban demi menyelamatkan orang lain walaupun keselamatan dirinya juga terancam. Sekarang, nama Mohamed Jaisham begitu populer di seantero Maladewa maupun dunia.
Sebagai bentuk penghargaan, Presiden Maumoon yang juga menjabat sebagai Ketua Kepanduan Maladewa menganugerahkan The Gallantry Gold Award (medali khusus bagi anggota kepanduan, baik perseorangan maupun kelompok yang telah berkorban untuk masalah kemanusiaan). Dalam sambutan pada upacara penyerahan medali, Rabu (23/1), di Sekolah Ghiyaasuddin, Presiden Maumoon mengatakan, gerakan kepanduan dan seluruh warga Maladewa patut berbangga terhadap Mohamed Jaisham. Presiden Maumoon juga menambahkan, keberanian yang dimiliki Mohamed Jaisham tak terlepas dari efektifnya latihan keterampilan yang dijalani Jaisham selama mengikuti gerakan kepanduan. (Yudi Noorachman/dari berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (15/02/2008)
Merevitalisasi Satuan Karya Pramuka (Saka)
REVITALISASI Gerakan Pramuka secara substansi bertujuan untuk mengembalikan organisasi ini kembali dicintai dan diminati generasi muda. Selain itu, revitalisasi mengukuhkan kembali Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan kader bangsa yang dapat diandalkan mencetak generasi muda yang berkepribadian, berbudi pekerti luhur, cerdas, dan terampil, serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dukungan penuh dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Mabinas Gerakan Pramuka telah diserukan. Tinggal peran optimal dari seluruh jajaran Gerakan Pramuka untuk mengimplementasikannya sesuai kemampuan yang ada.
Revitalisasi di sini juga bukan membentuk organisasi baru, namun membenahi sekaligus menyempurnakan organisasi dan bagian-bagiannya yang sudah ada dengan inovasi-inovasi segar yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan yang dinamis. Salah satunya adalah pengembangan Satuan Karya Pramuka (Saka).
Seperti dilansir situs www.pramuka.or.id, baru-baru ini dalam pertemuan yang membahas koordinasi pimpinan Satuan Karya Pramuka yang dihadiri perwakilan ketujuh Saka, di Jakarta, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Prof. Dr. H. Azrul Azwar, M.P.H., mengungkapkan, sejalan dengan revitalisasi Gerakan Pramuka, mengingat perannya yang sangat penting, pembinaan kesakaan perlu dibangkitkan kembali. Hal itu dilakukan dengan pembinaan yang sistematis, berkelanjutan, dan terencana, sehingga menggugah generasi muda kembali aktif dalam Gerakan Pramuka.
Seperti termaktub dalam Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 032 Tahun 1989 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka BAB II, Satuan Karya Pramuka (Saka), merupakan wadah pendidikan kepramukaan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan. Dengan aktif di kesakaan, anggota Pramuka diharapkan bisa meningkatkan motivasinya untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupannya sendiri maupun bekal pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Saat ini ada tujuh Saka yang membidangi bidang tertentu. Ketujuh Satuan Karya Pramuka itu ialah Saka Bahari, Saka Bakti Husada, Saka Bhayangkara, Saka Dirgantara, Saka Kencana, Saka Tarunabumi, dan Saka Wanabakti.
Saka Bahari merupakan wadah bagi Pramuka yang berminat dengan kegiatan kebaharian. Kegiatan yang sangat potensial dalam rangka menanamkan rasa cinta dan menumbuhkan sikap hidup yang berorientasi kebaharian. Pembinaan Saka Bahari biasanya bekerja sama dengan TNI AL dan Departemen Pariwisata. Sementara itu, Saka Bakti Husada diresmikan 17 Juli 1985 dengan tujuan sebagai wadah bagi Pramuka untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kesehatan. Pembinaan Saka ini bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, PMI, dan rumah sakit. Bagi anggota Pramuka yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat bisa bergabung dengan Saka Bhayangkara. Saka Bhayangkara merupakan yang terbesar dan paling berkembang di Indonesia dan biasanya bekerja sama dengan Polri. Bagi yang berminat dan mempunyai keahlian di bidang kedirgantaraan, Saka Dirgantara bisa dijadikan sebagai tempat mengasah sekaligus menambah pengetahuan. Sedangkan Saka Kencana, Saka Tarunabumi, dan Saka Wanabakti merupakan tempat menyalurkan minta anggota Pramuka di bidang Keluarga Berencana, pertanian, dan kehutanan.
Setiap Saka mempunyai satuan kecil yang disebut krida, yang lebih mengkhususkan dalam bidang tertentu dalam sebuah Saka. Saka dengan berbagai bidang yang ada di dalamnya sebenarnya bisa dijadikan aset potensial untuk kembali menarik minat generasi muda kembali menggeluti Gerakan Pramuka. Dengan pembinaan yang serius dari seluruh jajaran, penyediaan sarana dan prasarana penunjang yang memadai, pengemasan kegiatan yang menarik, dan dukungan dari lembaga terkait yang menjadi pembina, bukan mustahil revitalisasi Saka dapat terlaksana dengan baik sehingga Gerakan Pramuka kembali membahana di bumi tercinta ini. (Yudi Noorachman)***
sumber: piiran rakyat (20/07/2007)
Revitalisasi di sini juga bukan membentuk organisasi baru, namun membenahi sekaligus menyempurnakan organisasi dan bagian-bagiannya yang sudah ada dengan inovasi-inovasi segar yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan yang dinamis. Salah satunya adalah pengembangan Satuan Karya Pramuka (Saka).
Seperti dilansir situs www.pramuka.or.id, baru-baru ini dalam pertemuan yang membahas koordinasi pimpinan Satuan Karya Pramuka yang dihadiri perwakilan ketujuh Saka, di Jakarta, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Prof. Dr. H. Azrul Azwar, M.P.H., mengungkapkan, sejalan dengan revitalisasi Gerakan Pramuka, mengingat perannya yang sangat penting, pembinaan kesakaan perlu dibangkitkan kembali. Hal itu dilakukan dengan pembinaan yang sistematis, berkelanjutan, dan terencana, sehingga menggugah generasi muda kembali aktif dalam Gerakan Pramuka.
Seperti termaktub dalam Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 032 Tahun 1989 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka BAB II, Satuan Karya Pramuka (Saka), merupakan wadah pendidikan kepramukaan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan. Dengan aktif di kesakaan, anggota Pramuka diharapkan bisa meningkatkan motivasinya untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupannya sendiri maupun bekal pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Saat ini ada tujuh Saka yang membidangi bidang tertentu. Ketujuh Satuan Karya Pramuka itu ialah Saka Bahari, Saka Bakti Husada, Saka Bhayangkara, Saka Dirgantara, Saka Kencana, Saka Tarunabumi, dan Saka Wanabakti.
Saka Bahari merupakan wadah bagi Pramuka yang berminat dengan kegiatan kebaharian. Kegiatan yang sangat potensial dalam rangka menanamkan rasa cinta dan menumbuhkan sikap hidup yang berorientasi kebaharian. Pembinaan Saka Bahari biasanya bekerja sama dengan TNI AL dan Departemen Pariwisata. Sementara itu, Saka Bakti Husada diresmikan 17 Juli 1985 dengan tujuan sebagai wadah bagi Pramuka untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kesehatan. Pembinaan Saka ini bekerja sama dengan Departemen Kesehatan, PMI, dan rumah sakit. Bagi anggota Pramuka yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat bisa bergabung dengan Saka Bhayangkara. Saka Bhayangkara merupakan yang terbesar dan paling berkembang di Indonesia dan biasanya bekerja sama dengan Polri. Bagi yang berminat dan mempunyai keahlian di bidang kedirgantaraan, Saka Dirgantara bisa dijadikan sebagai tempat mengasah sekaligus menambah pengetahuan. Sedangkan Saka Kencana, Saka Tarunabumi, dan Saka Wanabakti merupakan tempat menyalurkan minta anggota Pramuka di bidang Keluarga Berencana, pertanian, dan kehutanan.
Setiap Saka mempunyai satuan kecil yang disebut krida, yang lebih mengkhususkan dalam bidang tertentu dalam sebuah Saka. Saka dengan berbagai bidang yang ada di dalamnya sebenarnya bisa dijadikan aset potensial untuk kembali menarik minat generasi muda kembali menggeluti Gerakan Pramuka. Dengan pembinaan yang serius dari seluruh jajaran, penyediaan sarana dan prasarana penunjang yang memadai, pengemasan kegiatan yang menarik, dan dukungan dari lembaga terkait yang menjadi pembina, bukan mustahil revitalisasi Saka dapat terlaksana dengan baik sehingga Gerakan Pramuka kembali membahana di bumi tercinta ini. (Yudi Noorachman)***
sumber: piiran rakyat (20/07/2007)
Mengenal Lebih Dekat Agnes Baden-Powell
Walaupun pada awal berdirinya gerakan kepanduan hanya difokuskan untuk anak laki-laki, sebenarnya para remaja putri menunjukkan mi nat yang besar untuk bergabung. Memang, saat itu pandangan masyarakat masih kolot. Di zaman seorang remaja putri selalu mengenakan rok panjang semata kaki dan tak pernah berlari, ide mengikutsertakan mereka dalam kegiatan berkemah dan aktivitas outdoor lainnya dianggap hal konyol yang melanggar norma sosial.
Hal tersebut tidak menyurutkan minat remaja putri saat itu untuk bergabung dengan gerakan kepanduan. Dalam pertemuan pertama anggota kepanduan di Crystal Palace, London, Inggris, tahun 1909, sekelompok remaja putri hadir. Mereka merepresentasikan ratusan remaja putri lainnya dan bersikeras untuk menjadi bagian dari kepanduan dengan menamakan diri Girl Scouts.
Setelah Bapak Kepanduan Robert Baden-Powell mengakomodasi keinginan tersebut, kepanduan putri (Girl Guides) akhirnya resmi berdiri tahun 1910. Orang yang sangat berjasa mengembangkan gerakan kepanduan putri ialah Agnes Smyth Baden-Powell. Agnes pulalah yang dipercaya Robert Baden-Powell sebagai orang pertama yang menangani gerakan kepanduan putri. Lewat kerja keras Agnes dalam mengembangkan gerakan kepanduan putri, sampai April 1910 saja, sudah 6.000 remaja putri di Inggris yang tercatat menjadi anggota Girl Guides.
Agnes Smyth Powell lahir 16 Desember 1858. Ia merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. Ia merupakan adik langsung dari Robert Baden-Powell (anak kedelapan). Ibunya, Henrietta Grace Smyth merupakan istri ketiga dari pendeta H.G. Baden Powell (dua istri sebelumnya meninggal dunia). Selain sebagai pendeta, ayah Agnes, H.G. Baden-Powell juga merupakan seorang Profesor Savilian (istilah khusus profesor di bidang matematika di Universitas Oxford Inggris) yang mengajar geometri di Universitas Oxford. Saat Agnes berusia 2 tahun dan Robert 3 tahun, sang ayah meninggal dunia. Ia dan kakak-kakaknya serta adiknya dibesarkan oleh Henrietta, seorang ibu yang mempunyai keteguhan hati mendidik anaknya untuk sukses. Tak salah jika Robert Baden-Powell pada tahun 1933 pernah berkata, "Semua rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya."
Agnes kecil tumbuh menjadi seorang yang terampil. Pengaruh dan bakat ibunya dalam bermain musik melekat erat dalam diri Agnes. Tak heran sejak kecil Agnes sudah piawai memainkan beberapa alat musik, seperti piano, organ, dan violin.
Seperti ibunya, Agnes tumbuh menjadi seorang wanita yang mempunyai seabrek minat dan serbaingin tahu terhadap sesuatu. Berbagai hal ia pelajari, mulai dari bahasa (ia menguasai 11 bahasa), ilmu astronomi, sains, ilmu botani dan zoologi. Ia pun bisa menjahit dan membuat kerajinan dari bahan logam. Sebagai anak perempuan, Agnes mahir memasak dan mengurus rumah. Kemampuannya sebagai perawat juga tak diragukan. Selain itu, ia sangat sayang terhadap binatang. Agnes memelihara burung, mengoleksi kupu-kupu, dan beternak lebah di rumahnya. Agnes juga berbakat dalam menulis. Tak puas dengan apa yang dikerjakannya, pada tahun 1908, Agnes mulai tertarik dengan apa yang dilakukan kakaknya, Robert Baden-Powell, dengan mengikuti gerakan kepanduan.
Setelah terbentuk kepanduan putri (Girl Guides) tahun 1910, Agnes bersama beberapa temannya membentuk kepengurusan Girl Guides. Dalam pertemuan itu Agnes dipilih menjadi presiden kepanduan putri yang pertama. Agnes memutuskan mengundurkan diri dari jabatan Presiden Kepanduan Putri Inggris pada tahun 1917. (Yudi Noorachman/berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (11/01/2008)
Hal tersebut tidak menyurutkan minat remaja putri saat itu untuk bergabung dengan gerakan kepanduan. Dalam pertemuan pertama anggota kepanduan di Crystal Palace, London, Inggris, tahun 1909, sekelompok remaja putri hadir. Mereka merepresentasikan ratusan remaja putri lainnya dan bersikeras untuk menjadi bagian dari kepanduan dengan menamakan diri Girl Scouts.
Setelah Bapak Kepanduan Robert Baden-Powell mengakomodasi keinginan tersebut, kepanduan putri (Girl Guides) akhirnya resmi berdiri tahun 1910. Orang yang sangat berjasa mengembangkan gerakan kepanduan putri ialah Agnes Smyth Baden-Powell. Agnes pulalah yang dipercaya Robert Baden-Powell sebagai orang pertama yang menangani gerakan kepanduan putri. Lewat kerja keras Agnes dalam mengembangkan gerakan kepanduan putri, sampai April 1910 saja, sudah 6.000 remaja putri di Inggris yang tercatat menjadi anggota Girl Guides.
Agnes Smyth Powell lahir 16 Desember 1858. Ia merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. Ia merupakan adik langsung dari Robert Baden-Powell (anak kedelapan). Ibunya, Henrietta Grace Smyth merupakan istri ketiga dari pendeta H.G. Baden Powell (dua istri sebelumnya meninggal dunia). Selain sebagai pendeta, ayah Agnes, H.G. Baden-Powell juga merupakan seorang Profesor Savilian (istilah khusus profesor di bidang matematika di Universitas Oxford Inggris) yang mengajar geometri di Universitas Oxford. Saat Agnes berusia 2 tahun dan Robert 3 tahun, sang ayah meninggal dunia. Ia dan kakak-kakaknya serta adiknya dibesarkan oleh Henrietta, seorang ibu yang mempunyai keteguhan hati mendidik anaknya untuk sukses. Tak salah jika Robert Baden-Powell pada tahun 1933 pernah berkata, "Semua rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya."
Agnes kecil tumbuh menjadi seorang yang terampil. Pengaruh dan bakat ibunya dalam bermain musik melekat erat dalam diri Agnes. Tak heran sejak kecil Agnes sudah piawai memainkan beberapa alat musik, seperti piano, organ, dan violin.
Seperti ibunya, Agnes tumbuh menjadi seorang wanita yang mempunyai seabrek minat dan serbaingin tahu terhadap sesuatu. Berbagai hal ia pelajari, mulai dari bahasa (ia menguasai 11 bahasa), ilmu astronomi, sains, ilmu botani dan zoologi. Ia pun bisa menjahit dan membuat kerajinan dari bahan logam. Sebagai anak perempuan, Agnes mahir memasak dan mengurus rumah. Kemampuannya sebagai perawat juga tak diragukan. Selain itu, ia sangat sayang terhadap binatang. Agnes memelihara burung, mengoleksi kupu-kupu, dan beternak lebah di rumahnya. Agnes juga berbakat dalam menulis. Tak puas dengan apa yang dikerjakannya, pada tahun 1908, Agnes mulai tertarik dengan apa yang dilakukan kakaknya, Robert Baden-Powell, dengan mengikuti gerakan kepanduan.
Setelah terbentuk kepanduan putri (Girl Guides) tahun 1910, Agnes bersama beberapa temannya membentuk kepengurusan Girl Guides. Dalam pertemuan itu Agnes dipilih menjadi presiden kepanduan putri yang pertama. Agnes memutuskan mengundurkan diri dari jabatan Presiden Kepanduan Putri Inggris pada tahun 1917. (Yudi Noorachman/berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (11/01/2008)
Mengenal Lambang Pramuka, Tunas Kelapa
PRAJA Muda Karana mengandung arti orang muda yang suka berkarya. Barisan pemuda yang penuh dedikasi, tangguh, mandiri, memiliki keterampilan hidup (life skills) tinggi yang bisa berguna, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Kumpulan tunas bangsa yang mempunyai watak dan budi pekerti luhur, yang bisa dijadikan tulang punggung pembangunan bangsa. Generasi muda yang diharapkan tumbuh menjadi generasi multiguna layaknya pohon nyiur yang tunasnya dijadikan lambang gerakan ini.
Dalam lambang siluet tunas kelapa terkandung arti simbolik yang penting, berisi esensi falsafah hidup tinggi yang dapat dijadikan pegangan oleh setiap anggota Gerakan Pramuka. Lambang siluet tunas kelapa diciptakan almarhum Soenardjo Atmodipuro, seorang pejabat tinggi di Departemen Pertanian yang juga aktif membina Pramuka. Tunas kelapa telah digunakan sejak tanggal 14 Agustus 1961 pada panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia yang dianugerahkan kepada Gerakan Pramuka.
Seperti termaktub dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 006/KN/72 Tahun 1972 tentang Lambang Gerakan Pramuka tertanggal 31 Januari 1972, terdapat enam uraian arti kiasan yang terkandung dalam lambang siluet tunas kelapa ini. Karena mempunyai arti simbolik penting, uraian tentang arti kiasan diatur sederhana supaya mudah dipahami dan diingat oleh anggota Pramuka yang sebagian besar generasi muda.
Arti kiasan lambang Gerakan Pramuka itu adalah, Pertama, buah nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal dan istilah cikal bakal di Indonesia berarti penduduk asli yang pertama yang menurunkan generasi baru. Hal itu mempunyai arti bahwa setiap anggota Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
Kedua, buah nyiur dapat bertahan lama dalam keadaan bagaimanapun juga. Maksudnya, setiap Pramuka adalah seorang yang mempunyai rohaniah dan jasmaniah sehat, kuat dan ulet serta mempunyai tekad besar dalam menghadapi segala tantangan dan ujian kehidupan untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa Indonesia.
Ketiga, nyiur dapat tumbuh di mana saja. Hal itu membuktikan besarnya daya upayanya dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekeliling. Kiasan ini memiliki makna bahwa setiap Pramuka dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat di mana pun ia berada dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Keempat, nyiur tumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon tertinggi. Ini bermakna, setiap Pramuka mempunyai cita-cita yang tinggi, lurus, mulia, jujur, tetap tegak, dan tidak mudah diombang-ambing oleh sesuatu.
Kelima, akar nyiur yang tumbuh kuat dan erat di dalam tanah melambangkan tekad dan keyakinan setiap Pramuka. Dengan berpegang kepada dasar-dasar dan landasan-landasan yang baik, benar, kuat dan nyata, dapat digunakan untuk memperkuat diri guna menggapai cita-cita. Keenam, nyiur merupakan pohon yang serbaguna, dari ujung hingga akarnya. Maksudnya, setiap Pramuka adalah manusia yang berguna dan membaktikan diri kepada kepentingan tanah air, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta kepada umat manusia.
Selanjutnya, penggunaan lambang Gerakan Pramuka sebagai lencana dan pemakaiannya dalam sistem tanda-tanda, bendera, papan nama, dan sebagainya, diatur dalam petunjuk-petunjuk penyelenggaraan. Lambang Gerakan Pramuka juga digunakan dalam bendera Gerakan Pramuka. Dalam bendera berbentuk segi empat panjang berwarna dasar putih, lambang Pramuka diletakkan di tengah-tengah dengan warna merah.
Makna simbolik yang penting yang terkandung dalam lambang Gerakan Pramuka seyogianya dipahami dan dihayati oleh setiap anggota Pramuka. Diharapkan, dengan pemahaman yang baik, uraian tersebut bukan semata menjadi kiasan, tetapi terpatri dalam sanubari dan direalisasikan dalam kehidupan setiap anggota Pramuka.
(Yudi Noorachman yudinoor_hd26@yahoo.com/berbagai sumber).
sumber: pikiran rakyat (29/06/2007)
Dalam lambang siluet tunas kelapa terkandung arti simbolik yang penting, berisi esensi falsafah hidup tinggi yang dapat dijadikan pegangan oleh setiap anggota Gerakan Pramuka. Lambang siluet tunas kelapa diciptakan almarhum Soenardjo Atmodipuro, seorang pejabat tinggi di Departemen Pertanian yang juga aktif membina Pramuka. Tunas kelapa telah digunakan sejak tanggal 14 Agustus 1961 pada panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia yang dianugerahkan kepada Gerakan Pramuka.
Seperti termaktub dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 006/KN/72 Tahun 1972 tentang Lambang Gerakan Pramuka tertanggal 31 Januari 1972, terdapat enam uraian arti kiasan yang terkandung dalam lambang siluet tunas kelapa ini. Karena mempunyai arti simbolik penting, uraian tentang arti kiasan diatur sederhana supaya mudah dipahami dan diingat oleh anggota Pramuka yang sebagian besar generasi muda.
Arti kiasan lambang Gerakan Pramuka itu adalah, Pertama, buah nyiur dalam keadaan tumbuh dinamakan cikal dan istilah cikal bakal di Indonesia berarti penduduk asli yang pertama yang menurunkan generasi baru. Hal itu mempunyai arti bahwa setiap anggota Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
Kedua, buah nyiur dapat bertahan lama dalam keadaan bagaimanapun juga. Maksudnya, setiap Pramuka adalah seorang yang mempunyai rohaniah dan jasmaniah sehat, kuat dan ulet serta mempunyai tekad besar dalam menghadapi segala tantangan dan ujian kehidupan untuk mengabdi kepada tanah air dan bangsa Indonesia.
Ketiga, nyiur dapat tumbuh di mana saja. Hal itu membuktikan besarnya daya upayanya dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekeliling. Kiasan ini memiliki makna bahwa setiap Pramuka dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat di mana pun ia berada dan dalam keadaan bagaimanapun juga. Keempat, nyiur tumbuh menjulang lurus ke atas dan merupakan salah satu pohon tertinggi. Ini bermakna, setiap Pramuka mempunyai cita-cita yang tinggi, lurus, mulia, jujur, tetap tegak, dan tidak mudah diombang-ambing oleh sesuatu.
Kelima, akar nyiur yang tumbuh kuat dan erat di dalam tanah melambangkan tekad dan keyakinan setiap Pramuka. Dengan berpegang kepada dasar-dasar dan landasan-landasan yang baik, benar, kuat dan nyata, dapat digunakan untuk memperkuat diri guna menggapai cita-cita. Keenam, nyiur merupakan pohon yang serbaguna, dari ujung hingga akarnya. Maksudnya, setiap Pramuka adalah manusia yang berguna dan membaktikan diri kepada kepentingan tanah air, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta kepada umat manusia.
Selanjutnya, penggunaan lambang Gerakan Pramuka sebagai lencana dan pemakaiannya dalam sistem tanda-tanda, bendera, papan nama, dan sebagainya, diatur dalam petunjuk-petunjuk penyelenggaraan. Lambang Gerakan Pramuka juga digunakan dalam bendera Gerakan Pramuka. Dalam bendera berbentuk segi empat panjang berwarna dasar putih, lambang Pramuka diletakkan di tengah-tengah dengan warna merah.
Makna simbolik yang penting yang terkandung dalam lambang Gerakan Pramuka seyogianya dipahami dan dihayati oleh setiap anggota Pramuka. Diharapkan, dengan pemahaman yang baik, uraian tersebut bukan semata menjadi kiasan, tetapi terpatri dalam sanubari dan direalisasikan dalam kehidupan setiap anggota Pramuka.
(Yudi Noorachman yudinoor_hd26@yahoo.com/berbagai sumber).
sumber: pikiran rakyat (29/06/2007)
Jumat, 31 Oktober 2008
Menanti Jambore Pandu Dunia Ke-21 di Inggris
TAK lama lagi, tepatnya bulan Agustus, Jambore Pandu Dunia ke-21 akan digelar. Hajat besar gerakan kepanduan sedunia yang diselenggarakan empat tahun sekali ini diadakan di Inggris, tepatnya di Hylands Park Chelmsford Essex, 50 kilometer arah timur laut Kota London, 27 Juli-8 Agustus. Penyelenggaraan kali ini terasa begitu istimewa. Selain mengambil tempat di Inggris yang notabene tempat lahirnya gerakan kepanduan, pelaksanaannya pun berbarengan dengan perayaan 100 tahun gerakan kepanduan dunia. Kegiatan ini akan diikuti kurang lebih 40.000 anggota kepanduan dari seluruh dunia yang terdiri atas 28.000 anggota muda (putra/putri) dan 12.000 anggota dewasa dari lebih 150 negara.
Jambore dunia merupakan ajang pertemuan dalam bentuk perkemahan besar bagi anggota muda kepanduan usia 14-17 tahun (setingkat penggalang) dari seluruh dunia. Karena membawa nama negara ke ajang internasional, tentu perwakilan yang dikirim pun merupakan anggota kepanduan pinilih yang telah lolos seleksi di negara masing-masing.
Pelaksanaan jambore dunia berawal dari ide Bapak Pandu Sedunia Baden-Powell. Mengingat sejak tahun 1908 gerakan kepanduan begitu pesat menyebar ke seantero dunia, Baden-Powell sadar perlu diadakan pertemuan antaranggota muda gerakan kepanduan di seluruh dunia. Tujuan utamanya ialah mempererat tali persaudaraan, memupuk solidaritas, dan membantu anak muda anggota kepanduan belajar tentang orang lain yang berbeda kultur dan budaya dengan berinteraksi langsung dalam suatu tempat.
Ide ini sebenarnya ingin diwujudkan tahun 1917, bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-10 perkemahan pertama yang dilakukan Baden-Powell di Brownsea Island. Namun, Perang Dunia I yang berkecamuk menunda keinginan tersebut. Akhirnya, setelah perang mereda pada tahun 1918, diputuskan bahwa Jambore Pandu Dunia pertama akan dilakukan dua tahun kemudian, tahun 1920 di Olympia, London Inggris. Secara kebetulan, hal yang sama pun terulang lagi pada penyelenggaran Jambore Dunia ke-6 tahun 1947 yang harus diundur lagi dua tahun karena Perang Dunia II meletus.
Baden-Powell memilih nama jambore untuk event ini, merujuk kepada ucapan salam dalam bahasa Swahili (bahasa yang digunakan di negara-negara sub-Sahara Afrika), yakni "jambo" yang berarti "helo". Jambore Dunia I berada di bawah naungan organisasi The Boy Scout Association di London. Sedangkan untuk tahun-tahun selanjutnya yang mengorganisasi adalah World Organization of the Scout Movement (WOSM).
Setelah sukses penyelenggaraan pertama, Jambore Sedunia II dilaksanakan di Copenhagen, Denmark tahun 1924. Selanjutnya berturut-turut di Birkenhead Inggris (1929), Gvdvllv Hongaria (1933), Vogelenzang Belanda (1937), Moisson Prancis (1947), Bad Ischl Austria (1951), Niagara Kanada (1955), Sutton Coldfield Inggris (1957), Laguna Filipina (1959), Marathon Yunani (1963), Farragut State Amerika (1967), Asagiri Heights Jepang (1971), Lillehammer Norwegia (1975).
Untuk penyelenggaraan Jambore Sedunia ke-15 tahun 1979 sedianya diselenggarakan di Iran. Namun kondisi politik negara itu yang tidak memungkinkan akhirnya penyelenggaraan dipindahkan ke Kananaskis Country Kanada tahun 1983. Selanjutnya, Sydney Australia (1987), Soraksan National Park Korea Selatan (1991), Dronten Belanda (1995), Picarquin Cile (1999), Thailand (2003), dan Agustus 2007 mendatang di Inggris.
Sejarah mencatat, sebenarnya perwakilan dari Indonesia telah ikut berpartisipasi dalam Jambore Dunia ke-5 tahun 1937 di Belanda. Saat itu para pandu Indonesia masih mengusung nama Hindia Belanda. Pada tahun 1959, salah satu organisasi kepanduan di Indonesia saat itu, yakni Ipindo (Ikatan Pandu Indonesia) juga mengirimkan kontingennya untuk ikut Jambore Dunia ke-10 di Filipina.
Indonesia pun pernah mencalonkan diri menjadi tuan rumah Jambore Dunia ke-19 tahun 1999 namun kalah suara oleh Cile dalam pemilihan pada Konferensi Pandu Sedunia. Dipilihnya Cile saat itu dengan pertimbangan jambore dunia belum pernah diselenggarakan di negara-negara Amerika Selatan. (Yudi Noorachman, dari berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (16/03/2007)
Jambore dunia merupakan ajang pertemuan dalam bentuk perkemahan besar bagi anggota muda kepanduan usia 14-17 tahun (setingkat penggalang) dari seluruh dunia. Karena membawa nama negara ke ajang internasional, tentu perwakilan yang dikirim pun merupakan anggota kepanduan pinilih yang telah lolos seleksi di negara masing-masing.
Pelaksanaan jambore dunia berawal dari ide Bapak Pandu Sedunia Baden-Powell. Mengingat sejak tahun 1908 gerakan kepanduan begitu pesat menyebar ke seantero dunia, Baden-Powell sadar perlu diadakan pertemuan antaranggota muda gerakan kepanduan di seluruh dunia. Tujuan utamanya ialah mempererat tali persaudaraan, memupuk solidaritas, dan membantu anak muda anggota kepanduan belajar tentang orang lain yang berbeda kultur dan budaya dengan berinteraksi langsung dalam suatu tempat.
Ide ini sebenarnya ingin diwujudkan tahun 1917, bersamaan dengan peringatan ulang tahun ke-10 perkemahan pertama yang dilakukan Baden-Powell di Brownsea Island. Namun, Perang Dunia I yang berkecamuk menunda keinginan tersebut. Akhirnya, setelah perang mereda pada tahun 1918, diputuskan bahwa Jambore Pandu Dunia pertama akan dilakukan dua tahun kemudian, tahun 1920 di Olympia, London Inggris. Secara kebetulan, hal yang sama pun terulang lagi pada penyelenggaran Jambore Dunia ke-6 tahun 1947 yang harus diundur lagi dua tahun karena Perang Dunia II meletus.
Baden-Powell memilih nama jambore untuk event ini, merujuk kepada ucapan salam dalam bahasa Swahili (bahasa yang digunakan di negara-negara sub-Sahara Afrika), yakni "jambo" yang berarti "helo". Jambore Dunia I berada di bawah naungan organisasi The Boy Scout Association di London. Sedangkan untuk tahun-tahun selanjutnya yang mengorganisasi adalah World Organization of the Scout Movement (WOSM).
Setelah sukses penyelenggaraan pertama, Jambore Sedunia II dilaksanakan di Copenhagen, Denmark tahun 1924. Selanjutnya berturut-turut di Birkenhead Inggris (1929), Gvdvllv Hongaria (1933), Vogelenzang Belanda (1937), Moisson Prancis (1947), Bad Ischl Austria (1951), Niagara Kanada (1955), Sutton Coldfield Inggris (1957), Laguna Filipina (1959), Marathon Yunani (1963), Farragut State Amerika (1967), Asagiri Heights Jepang (1971), Lillehammer Norwegia (1975).
Untuk penyelenggaraan Jambore Sedunia ke-15 tahun 1979 sedianya diselenggarakan di Iran. Namun kondisi politik negara itu yang tidak memungkinkan akhirnya penyelenggaraan dipindahkan ke Kananaskis Country Kanada tahun 1983. Selanjutnya, Sydney Australia (1987), Soraksan National Park Korea Selatan (1991), Dronten Belanda (1995), Picarquin Cile (1999), Thailand (2003), dan Agustus 2007 mendatang di Inggris.
Sejarah mencatat, sebenarnya perwakilan dari Indonesia telah ikut berpartisipasi dalam Jambore Dunia ke-5 tahun 1937 di Belanda. Saat itu para pandu Indonesia masih mengusung nama Hindia Belanda. Pada tahun 1959, salah satu organisasi kepanduan di Indonesia saat itu, yakni Ipindo (Ikatan Pandu Indonesia) juga mengirimkan kontingennya untuk ikut Jambore Dunia ke-10 di Filipina.
Indonesia pun pernah mencalonkan diri menjadi tuan rumah Jambore Dunia ke-19 tahun 1999 namun kalah suara oleh Cile dalam pemilihan pada Konferensi Pandu Sedunia. Dipilihnya Cile saat itu dengan pertimbangan jambore dunia belum pernah diselenggarakan di negara-negara Amerika Selatan. (Yudi Noorachman, dari berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (16/03/2007)
Bronze Wolf Award, Penghargaan Tertinggi Kepanduan
Dalam gerakan kepanduan, setiap negara mempunyai bentuk penghargaan masing-masing terhadap anggotanya yang telah berbuat banyak terhadap organisasi. Di Indonesia misalnya, dikenal Lencana Tunas Kencana yang merupakan bentuk penghargaan tertinggi dalam gerakan pramuka. Sementara itu, dalam gerakan kepanduan Amerika dikenal tanda jasa Eagle Scout Award. Atau, Africa Elephant Award dari Africa Scout Committee. Namun, yang paling membanggakan tentu mendapatkannya dari induk organisasi kepanduan dunia, World Organization of the Scout Movement (WOSM) berupa Bronze Wolf Award.
Bronze Wolf Award merupakan satu-satunya penghargaan tertinggi yang diberikan Komite Kepanduan Sedunia (World Scout Committee) sebagai badan eksekutif di WOSM bagi orang-orang yang telah luar biasa mendedikasikan dirinya untuk perkembangan gerakan kepanduan dunia.
Bronze Wolf Award pertama kali disahkan dalam pertemuan International Committee di Stockholm Swedia, 2 Agustus 1935. Sebelum Bronze Wolf Award diperkenalkan, saat tahun-tahun pertama gerakan kepanduan mulai mendunia, Lord Baden-Powell mempunyai kebiasaan memberikan penghargaan Silver Wolf bagi anggota kepanduan di beberapa negara yang berprestasi.
Penghargaan Silver Wolf tentu bernilai tinggi dan sangat berarti bagi penerimanya. Namun, penghargaan Silver Wolf kadung dicap sebagai tanda jasa yang diberikan oleh Organisasi Kepanduan Inggris. Meskipun diberikan oleh Bapak Pandu Sedunia, penghargaan tersebut dirasa belum menginternasional. Padahal, saat itu organisasi kepanduan telah menyebar luas ke seluruh dunia.
Atas dasar itulah, International Committee pada tahun 1924 mengusulkan kepada Baden-Powell untuk mempertimbangkan lembaga tersebut membuat penghargaan khusus bagi orang-orang di seluruh dunia yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap gerakan kepanduan sekaligus merekomendasikan calon penerimanya.
Setelah tertunda selama beberapa tahun, pada tahun 1932, Baden-Powell kembali membuka pembicaraan mengenai usulan itu. Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan International Committee, diputuskanlah dibuat penghargaan yang diberi nama Bronze Wolf pada bulan Juni 1934. Sesuai dengan namanya, tanda jasa berupa medali tersebut berbentuk serigala yang terbuat dari perunggu dengan hiasan tali pita hijau berhiaskan pinggiran berwarna kuning.
Pemberian penghargaan ini merujuk proposal yang disusun salah seorang anggota, Mr. Walter H. Head, saat itu International Committee secara mufakat memberikan tanda jasa Bronze Wolf pertama kepada Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden-Powell.
Selama dua puluh tahun pertama perjalanan penghargaan ini, hanya dua belas Bronze Award yang dibuat. Hal ini sesuai dengan kebijakan yang dibuat International Committee bahwa penghargaan ini hanya dipersembahkan bagi mereka yang benar-benar telah berjasa dan mendedikasikan dirinya bagi perkembangan gerakan kepanduan. Saat ini, Bronze Wolf masih menjadi satu-satunya penghargaan yang diberikan World Scout Committee sebagai successor International Committee. Sampai tahun 2002, World Scout Committee telah mempersembahkan 320 penghargaan Bronze Wolf kepada mereka yang berjasa besar terhadap perkembangan kepanduan di seluruh dunia.
Indonesia patut berbangga karena empat putra terbaiknya pernah dianugerahi penghargaan Bronze Wolf. Mereka ialah Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dianugerahi pada tahun 1973, Abdul Azis Saleh pada tahun 1978, John Beng Kiat Liem tahun 1982. Terakhir ialah Mashudi yang mendapat Bronze Wolf Award pada saat berlangsung Konferensi Gerakan Kepanduan Sedunia yang ke-30 di Munich Jerman, 15-19 Juli 1985. Mashudi yang sempat menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1978-1993) sangat berjasa bagi pengembangan gerakan pramuka di tanah air. Dalam kurun waktu tersebut, gerakan pramuka berkembang menjadi organisasi kepanduan terbesar di dunia. (Yudi Noorachman, berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (30/03/2007)
Bronze Wolf Award merupakan satu-satunya penghargaan tertinggi yang diberikan Komite Kepanduan Sedunia (World Scout Committee) sebagai badan eksekutif di WOSM bagi orang-orang yang telah luar biasa mendedikasikan dirinya untuk perkembangan gerakan kepanduan dunia.
Bronze Wolf Award pertama kali disahkan dalam pertemuan International Committee di Stockholm Swedia, 2 Agustus 1935. Sebelum Bronze Wolf Award diperkenalkan, saat tahun-tahun pertama gerakan kepanduan mulai mendunia, Lord Baden-Powell mempunyai kebiasaan memberikan penghargaan Silver Wolf bagi anggota kepanduan di beberapa negara yang berprestasi.
Penghargaan Silver Wolf tentu bernilai tinggi dan sangat berarti bagi penerimanya. Namun, penghargaan Silver Wolf kadung dicap sebagai tanda jasa yang diberikan oleh Organisasi Kepanduan Inggris. Meskipun diberikan oleh Bapak Pandu Sedunia, penghargaan tersebut dirasa belum menginternasional. Padahal, saat itu organisasi kepanduan telah menyebar luas ke seluruh dunia.
Atas dasar itulah, International Committee pada tahun 1924 mengusulkan kepada Baden-Powell untuk mempertimbangkan lembaga tersebut membuat penghargaan khusus bagi orang-orang di seluruh dunia yang mempunyai dedikasi tinggi terhadap gerakan kepanduan sekaligus merekomendasikan calon penerimanya.
Setelah tertunda selama beberapa tahun, pada tahun 1932, Baden-Powell kembali membuka pembicaraan mengenai usulan itu. Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan International Committee, diputuskanlah dibuat penghargaan yang diberi nama Bronze Wolf pada bulan Juni 1934. Sesuai dengan namanya, tanda jasa berupa medali tersebut berbentuk serigala yang terbuat dari perunggu dengan hiasan tali pita hijau berhiaskan pinggiran berwarna kuning.
Pemberian penghargaan ini merujuk proposal yang disusun salah seorang anggota, Mr. Walter H. Head, saat itu International Committee secara mufakat memberikan tanda jasa Bronze Wolf pertama kepada Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden-Powell.
Selama dua puluh tahun pertama perjalanan penghargaan ini, hanya dua belas Bronze Award yang dibuat. Hal ini sesuai dengan kebijakan yang dibuat International Committee bahwa penghargaan ini hanya dipersembahkan bagi mereka yang benar-benar telah berjasa dan mendedikasikan dirinya bagi perkembangan gerakan kepanduan. Saat ini, Bronze Wolf masih menjadi satu-satunya penghargaan yang diberikan World Scout Committee sebagai successor International Committee. Sampai tahun 2002, World Scout Committee telah mempersembahkan 320 penghargaan Bronze Wolf kepada mereka yang berjasa besar terhadap perkembangan kepanduan di seluruh dunia.
Indonesia patut berbangga karena empat putra terbaiknya pernah dianugerahi penghargaan Bronze Wolf. Mereka ialah Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang dianugerahi pada tahun 1973, Abdul Azis Saleh pada tahun 1978, John Beng Kiat Liem tahun 1982. Terakhir ialah Mashudi yang mendapat Bronze Wolf Award pada saat berlangsung Konferensi Gerakan Kepanduan Sedunia yang ke-30 di Munich Jerman, 15-19 Juli 1985. Mashudi yang sempat menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1978-1993) sangat berjasa bagi pengembangan gerakan pramuka di tanah air. Dalam kurun waktu tersebut, gerakan pramuka berkembang menjadi organisasi kepanduan terbesar di dunia. (Yudi Noorachman, berbagai sumber)***
sumber: pikiran rakyat (30/03/2007)
Langganan:
Postingan (Atom)
